Sabtu, 13 Juni 2009

Pounded

Feb 25, 2009, 8:56 pm

Many colors had been gone
I forgot the sky's color
When I thought I saw the sun
It was the moon

Foggy morning
Cast away by my food steps
My eyes couldn't see other colors
I lost my way
My compass had been broken

I wasn't aware of being on the crossroad
Laughter behind me called
I stopped and looked
No one was there
Familiar faces were faded..... gone......
Evil faces replaced them
Surrounded me........
Eyed me.........
Like the devils

As I anxiously looked up
Suddenly I remembered the sky's color
But....
My sky was no longer blue

And I was scared...

Kamis, 19 Februari 2009

A pair of broken wings

A truck of desperation hit me

When the drought attacked my country



Twinkling lights and laughters faded

When something shot me right at my back


Aware of my broken wings

I hug innocent souls

In my escape none heard my depressed voice

I bent my knees in front of you

and you handcuff my hands


I sighed behind your bars

Shivered because of cold


Your pride killed me

Your lovely devilish smile sought me.......



Paralyzed me..........

You thought I was dead
Wrong....

You think I will be broken

Wrong....



I will cross over.........



I will be allright

Senin, 19 Januari 2009

First Kiss & Coz I Luv You

No wonder these books become best seller, two thumbs up…

“First Kiss” makes my mind fall into your book.
I don’t want to stop after start reading and I love all the characters’ personality (Eliza, Christope and Alberto)
The ending of this book makes me curious, makes me feel I have to read the next one (Coz I Luv You)


These books have a bloody good ending, I suggest all of you should read these books and you'll know what I mean...


can’t wait to read your new book
Keep writing!!!

Selasa, 16 Desember 2008

Sia-sia


Memulai segalanya dari awal akan lebih mudah
Mempertahankan adalah sebuah kesia-siaan
Kita tidak mempunyai masa depan

Tidak pernah beranjak lebih dari angka 2
Kau bergeming dalam aroma keakuan
Aku muak....

Rabu, 19 November 2008

Impian Ulat

Si ulat merayap

Di sebuah batang hijau

Kalau hujan turun

Dia akan bersembunyi

Tidur dan bermimpi

suatu saat

melalui proses yang sangat menyakitkan

Ia akan bermetamorfosis

menjadi seekor kupu-kupu cantik….

Sabtu, 15 November 2008

Aku

L aju derap imaji, menembusi
E valuasi waktu
O asis jiwa kala sepi memanggil
N ebula yang kadang memudar dalam jiwa
I lusi kebebasan semu
T erbungkus alam asing yang liar
A rak-arakan cemooh

E rangan keputusasaan
A dalah sebuah salib
S aat kau
T eringat bahwa itu sebuah
E kor perbuatan dari masa lalu
R acun yang membunuh pelan2

P antun berlarian di atas kertas
A ndai dapat ku jabar sebagai perisaiku
T api kertas bukan lidah
R inci; bukan sebuah senjata ampuh-tidak tajam
I frit yang selalu mengalahkanku
C acian yang tak bisa di musnahkan
I ronis
A lam cinta, cipta dan cita yang tak nyata

Kabut Gairah

Rambut yang gelap
Kemeja putih yang berantakan
Celana hitam yang kusut

Ku berjingkat menyampirkan gaun di pundak
Sinar keemasan yang membias menembusi segelas anggur merah
Di tanganmu

Bibir yang dingin
Wajah yang terpahat sempurna
Namun kaku
Tubuh yang atletis
Kulitnya tidak putih

Kau menoleh
Membuat alunan detak jantung berhenti
Dan Waktu ikut terhenti

Harum sabun dari bak mandi busa yang meluap
Menguar di sekitar
Handuk hangat yang tidak lagi kering menyelimuti tubuhku
Tubuhku yang gemetar

Tanpa senyum
Tanpa ekspresi wajah yang jelas
Kau mendekat

Lalu ku desahkan
Maaf
Ku lanjutkan...
Tertidur di bak mandi
Ku tambahkan
Ku rasa kalau kita cepat, masih bisa tiba di sana

Lalu wajah dinginmu memudar
Tangan hangatmu menyentuh pipi
Kau serahkan segelas anggur di tanganku
Kau bisikkan sesuatu
Nafasmu menghangati

Lalu kau menjauh
Memasang dasimu
Meraih setelan BOSS mu
menyemprotkan botol minyak wangi dengan harum maskulin

Pun aku bergegas
Memakai gaun
Menyambar high heel
Memasang asesoris
Menyanggul rambut
Mengoles lipstik

Tatapmu mengawasi
Ada kabut di sana
Di matamu...
Ada api di dalamnya
Di mata kelammu

Ku tarik stocking hitam
Ku kaitkan di ujung Victoria Secret
Ku pakai high heel
Aku telah siap

Lalu tanpa kata
Kau membuka pintu
Kita akan pergi ke sebuah pesta

Kamis, 13 November 2008

Hujan dan Mimpi

Harmoni suara yang tidak teratur
Enak di dengar
Hawa dingin yang menentramkan
Membawa memori ke masa kecil
Kesunyian yang terbungkus malam

Lewat iringan suaramu yang lembut
Kau hantar tidurku
Kereta mimpi yang di hias asa
Berhenti di stasiun maya
Membawa langkah-langkah kakiku
Menuju gerbong fantasi tanpa batas

Ku meringkuk erat di balik selimut cinta
di dendang irama nafas lembut
Terbang bersama kunang-kunang
lulabi si kecil samar-samar
kakiku tersesat di antara lebat amukmu

Ku berjalan mencari keretaku
Aku berlari dalam jatuhmu

Aku rindu kembali..........
Ke masa kecilku.........
Buaian ibu
Candaan ayah
Kado ulang tahun
Baju baru di tahun baru
Menghias pohon natal
Meja kecil muara tawa dan denting kehangatan
TV kecil, kursi malas
Ranjang yang hangat
Adik2 yang mengelilingi
Motor tua ayah yang butut
Harum masakan ibu yang lezat

Memudar....
Menghilang....
Jangan.....

Suaramu yang kian jelas.....
Hujan.....
Deras.....
Telah menghantarku kembali
dengan lumuran air mata
Aku rindu kembali ke masa itu

Merindu

Kulihat kau di sana
Di antara awan-awan yang membumbung tinggi-tinggi
Di arak angin
Wajah yang terpahat sempurna
Di kerjakan oleh tangan-tangan terampil

Berulang ku melompat
Namun kerianganku mengalahkan pengetahuanku
Aku berlari mengejar awanmu
Bersama derai tawa tak berkesudahan

Mahkotamu adalah hatimu
Keras namun anggun

Ku harap kau akan berhenti di ujung pelangi
Dan akan ku pakai selendangku
Kau adalah kegemaran semuruh raga
tangan-tanganmu adalah berkat sempurna
Tawamu adalah sumber kehidupan

Dan aku merindu
Dan aku merindu
Dan aku merindu

Party

Kerlip lampu
Memantul di lantai ruang
Dentam lagu
Menghantam di dinding-dinding

Denting gelas
Ditingkah bisik "Cheer"
Desah pinggul
seiring geliat musik

Bartender yang lagi menyuguh
Segelas besar berbuih berbau keras
Gelak tawa yang menjauh
Pandangan yang berputar

Rasa mual yang memuakkan
Langkah yang sempoyong
Tubuh yang dingin
Kemerdekaan di mulut pintu

Merangkak menuju si roda empat
Histeria yang menyebalkan
Anak kunci yang tak kunjung tersentuh
Kantung yang kosong

Hawa dingin jahat yang merasuk
Hujan kejam yang merintik
Angin yang tiba-tiba kencang dan
Hujan yang tiba-tiba deras

Rambut yang basah
Tergerai
Kesadaran yang terbungkus malam
Make up yang luntur
Maskara yang mengalir menghitam
Stiletto yang membuat pegal
Membuat tergelincir
Dataran keras yang menghantam wajah
Tas tangan yang jatuh
Berceceran...
Kunci itu di sana
Rasa sakit yang menyayat dipipi

Sebuah tangan lebar
Yang menggapai
Wajah yang suntuk
Wajah yang marah
Wajah yang basah

Gendongan yang hangat
Rasanya teramat ringan
Menuntun pulang
Selalu......

Kasihan

Melantunkan dendang hati
Dalam hari-hari yang diam
tiada mahluk....

Menderaikan tawa jiwa
Berharap bisa mewarnai hari
hanya putih.... tiada lain

Dia, kau, kita dan mereka
Satu kumpulan
tiada makna

Membenturkan diri
Membenamkan diri
tiada luka....

Ribuan, milyaran mil tlah kulalui
kisah manis itu
tiada berbekas

Berseru-seru dalam kerancuan kata-kata
Menangis dalam satu lembaran putih
tiada yang mendengar......

Kasihan!

Jumat, 05 September 2008

Tidak ada

Apakah dunia ini?
Tanyalah kepada Adam
dia yang menapaki kasarnya tanah yang di pijak untuk pertama kalinya

Adakah keajaiban itu?
Tanyalah kepada Daud
dia yang mampu membunuh raksasa hanya dengan sebuah batu kecil

Bagaimanakah keadilan itu?
Tanyalah kepada Salomo
dia yang di anugrahi kebijaksanaan

Kapan waktunya kita kembali?
Semua telah tertulis

Kelahiran
Perkawinan
Kematian

Kalaupun hari ini gelap
Akan ada terang esok hari

Kalaupun ada keputusasaan
Akan terbit asa kemudian

Kesabaran itu milik diri

Tahun-tahun terus berlalu
Tanyalah hatimu...
apa yang telah kau perbuat sebagai jaminanmu pergi ke sana?

..........

Tidak ada

..........

Rabu, 03 September 2008

Ku temukan

Langit mendung
Rerintik gerimis
Menjadi besar
Suara genting di berondong
Angin yang mengamuk........

Bau tanah
Bau rumput

Pemandangan yang hijau
Rumah yang megah

Ku jatuh cinta...
Terlanjur.....
Bukan kepadamu
Bukan....
Bukan kepada kupu-kupu
Bukan kepada semut
Bukan kepada burung pipit

Ku cari tempat kembali
ku temukan...

Ku ingin bawa mereka-mereka ke sana
Semoga....

Kamis, 10 Juli 2008

lidah dan lelah

Bisik-bisik itu
seperti segenggam pasir dalam telapak
begitu tertiup angin
berhamburan hilang

kata-kata itu
seperti kutukdalam jiwa
begitu tersebar
hilang harga diri

Kau dan mereka
mempunyai lidah yang membunuh
lidah yang membunuh tak punya raga
kau dan mereka
mempunyai seribu muka
muka yang selalu berganti-ganti



Lelah...........

Selasa, 06 Mei 2008

Bukan Siapa-Siapa

Desing mesin
Mendahului ambisi

Keinginan badan
Kehendak manusia

Besarnya gengsi
Bagian jiwa yang kerdil
Menggerogoti
Jiwa-jiwa tak berdosa

Kamu, aku dan mereka
Bukan siapa-siapa

Rabu, 26 Maret 2008

Mereka mereka yang datang

Dua motor berhenti di depan rumah
Teriak klakson menerotot isi rumah
Jam 8 lewat 3 menit....

Empat orang berwajah beringas
Menanyakanmu seperti rampok

Jam 11 hampir tengah malam
Jerit klakson terdengar lagi
Aku diam
Deru mesin kendaraan roda dua
lalu menjauh

Kamis, 20 Maret 2008

Terlambat

Gemericik air
Gelembung berbusa
Ku meringkuk dalam kehampaan

Berjam-jam tertidur
Dalam pelukan kehangatan
Air shower yang tiba-tiba menyala
Membangunkan
Terdampar aku dalam bak mandi bergelembung

Bergegas
Membilas diri
Handuk putih yang membungkus hangat
Di sambut dingin pendingin ruangan
Menggigil....

Korden tebal besar di sisi pembaringan
Awan berarak di luar yang terlihat
Kau di sana
Membelakangi
Memegang segelas anggur merah
Tidak menegurku bahkan menoleh

Rambut yang gelap
Kemeja putih yang berantakan
Celana hitam yang kusut

Ku berjingkat menyampirkan gaunku di pundak
Kita terlambat pergi ke sana

Kamis, 28 Februari 2008

Sepi


Pijar cahaya.......

Di kejauhan

Terbias kaca

Memudar


Pendar Kunang-Kunang

Malam hari

Di tengah sawah

Penuh kesenyapan


Denting piring

Di iring Adzan

Sesosok tubuh

Di meja makan besar


Memeluk sang pangeran

Meringkuk di ujung tempat tidur

Tawa sang putri yang menghibur

Tanpa mahkota sang Raja?


Tiada kaki

Hanya berpegang

Memberati nya

Jiwa yang ringkih

Hati yang tipis

Mata yang mempunyai sumber air deras

Mulut yang mudah mengeluh

Penuh sepi.......



Senin, 25 Februari 2008

Novel Pertama?

Opi-Dumpey-Nest, Twinade & Disgusting Best Friend, novel ke enam dari Ester (kalo ga salah), novel kedua yang gue beli, dan merupakan novel yang pertama yang gue baca sampai tuntas ^^

Gue termasuk orang yang males membaca, apalagi bila melihat bacaan/novel dengan wujudnya yang tebal dan cuma berisi teks doank, tanpa gambar. Gue lebih suka membaca komik meski banyak temen gue yang selalu ngatain "Buset!?! umur berapa lu masih baca komik aja!", atau "Lebih seru baca novel mas, fantasi gue lebih bebas dengan tidak adanya gambar". Yah namanya juga selera, sama dengan seni, ada yang suka, bahkan ada yang tidak suka sama sekali. Gue bisa mengerti meski dalam hati gue tidak setuju kalo gambar pada komik itu untuk membatasi fantasi/imaginasi pembacanya.

Buktinya gue, misal seperti di komik Tiger Wong, saat Tiger memamerkan kecepatan tendangannya pada si Maggie, gadis idamannya. Saat itu gue sampai menghitung jumlah gambar kaki si Tiger, bahkan sampai mencoba meniru gerakan si Tiger, 100 tendangan per detik! Konyol memang ^^ setidaknya itu bukti, dan gue yakin gue bukan satu-satunya.

Novel yang pertama kali gue beli yaitu Musashi, saat itu gue masih kelas 2 SMU, baru membaca berapa halaman aja gue udah teler, dan tidak pernah tuntas sampai sekarang. Kecuali Opi-Dumpey-Nest, Twinade, And Disgusting Best Friend karya Ester yang gue beli 17 Maret 2007 di sebuah toko buku ternama di sekitar Blok M, Ester pintar memilih dan menyusun kata, menggelitik, sampai tak jarang gue cekikikan ngebacanya dan ga sabar menuju halaman berikutnya karena Ester juga pintar membuat alur ceritanya sehingga gue selalu penasaran, sampai barista dan para pengunjung kafe langganan gue saat itu ikut geli ngeliat polah tingkah gue saat membacanya. Bahkan sampai ada yang berkomentar, "Wah mas ini seru amat tapi ga matching mas dengan bacaannya yang ber-cover eye candy begitu sementara yang baca gondrong kayak Rambo!?!" dan gue cengar-cengir malu sendiri ^^

Setelah itu gue cari novel-novel Ester yang terdahulu sebelum Opi-Dumpey-Nest.., sayang gue belum bisa mendapatkannya sampai sekarang T_T

AYA!?! Gue tunggu loh ^^

Jumat, 22 Februari 2008

My Guardian Angel

Woke up at night
Again........

Laid watching the wall
my bookshelf

That clock was sounding
tik tuk tik tuk....

February would soon be gone
A broken Valentine...
A bad news.........
A beautiful gift......
March would come........

The piece of Orchid
Beginning to die in the glass

four until twelve months
in his suffer

That Angel
My Guardian Angel

The Crying heart
Innocent children
The love was belong to them

Cruel faith
Unfair You
so useless.......
Don't leave me please........

My guardian angel
Stay with me........

Kamis, 21 Februari 2008

tentang pujangga

Dedicated to Leonita. A perspective from an old friend

inside out:
kreatifitas dalam lingkaran emas
merpati yang ingin lepas terbang
burung pipit di sarang elang
bocah dalam wujud bunda
imajinasi yang terhalang kesombongan asing

tentang kata-kata:
baris cerminan jiwa
melantun di atas lembar-lembar kertas
menyanyikan narasi cinta, dusta, dan prahara
terbit ketika raga terbelenggu atas nama pengorbanan
dan sepi...
dan salah diartikan...

kemerdekaan yang diukir pena








petite bouquet



courtesy of Kwan (Feb 2, 08)
4045 E Fairhaven
Orange, CA

Siluet Angin dalam Pandanganku


Kadang-kadang...
Saat memori hentikan waktu
Sering ku mantapkan hati tuk terus berjalan

Kadang-kadang...
Kala sepi datang mendera
Selalu ku yakinkan diri bahwa semua kan berlalu

Kadang-kadang....
Kalau rasa kangen kian membuncah
Jarang-jarang ku dapat menghibur diri

Setiap hari....
Selalu ku ku nanti tiap detik berdetak
Akan selalu ada harap untuk hari esok

Setiap Bulan....
kadang ku hitung tiap hari yang telah ku lalui
Ingin ku perbaiki tiap langkah yang goyah dan miring

Setiap tahun....
jarang ku lewati dengan gegap tawa dan keramaian
tahun-tahun yang terpecah menjadi hari-hari penuh kekosongan sangat tidak menyenangkan

Ada duka di masa lalu
Selalu....
Penyesalan yang tidak berguna
Perbaikan yang tidak lagi berarti

Ada suka jauh di depan
mungkin...
Entah kapan dapat kunikmati
Terlalu banyak sandungan

Ada keputusasaan saat ini
pasti....
Tertancap dalam di dalam hati
Ku bingung membawa langkahku

Jangan pandang aku dengan pandangan yang selalu menunduk
Aku setara dengan ketinggianmu
Aku bahkan dapat mencium aroma kesombongan itu
Bilur-bilur itu masih menjerat pergelangan kakiku
Aku tertahan oleh sesuatu yang paling menakutkan
Aku ingin benang itu tetap utuh
Karena ada warna di atasnya....
Warna-warna yang telah ku kumpulkan dengan air mata, darah dan kesakitan
Punya ironi warna yang begitu mencolok
Warna yang ku kumpulkan dengan pengorbanan, kesabaran dan sekeping asa
Punya harmoni warna yang lembut
Aku tak mau rajutanku terpotong lidah

Kadang-kadang....
Kala dinding persegi ini mengurungku dalam kesenyapan malam
Ada Kau di dalam diriku....
Jalan yang kulalui tidak datar seperti jalan lain

Selalu.....
Kau dan aku bertabrakan dengan sebuah kecerdasan tanpa batas
Duniamu dingin.........

Rabu, 20 Februari 2008

closing the 2007 chapter

I come to the end of 2007 days counting
365 dates marked

I remember the first date I crossed
Longingly wished for the time to go by
So many things happened
New experience, adventures, togetherness, disasters..
New friends

Laughter that I shared
Tears that I shed

My best friends' weddings that I missed
and my dear friends' funerals..
also the new born babies..

I am closing the 2007 chapter with a couple of answers
one to my beloved other half
one to a question I used to deny

I am closing this chapter with wishes
of a prosperous and blessed new year
of commencement
of coming home
of seeing people that I miss
of luck and happiness
HAPPY NEW YEAR 2008