
Kadang-kadang...
Saat memori hentikan waktu
Sering ku mantapkan hati tuk terus berjalan
Kadang-kadang...
Kala sepi datang mendera
Selalu ku yakinkan diri bahwa semua kan berlalu
Kadang-kadang....
Kalau rasa kangen kian membuncah
Jarang-jarang ku dapat menghibur diri
Setiap hari....
Selalu ku ku nanti tiap detik berdetak
Akan selalu ada harap untuk hari esok
Setiap Bulan....
kadang ku hitung tiap hari yang telah ku lalui
Ingin ku perbaiki tiap langkah yang goyah dan miring
Setiap tahun....
jarang ku lewati dengan gegap tawa dan keramaian
tahun-tahun yang terpecah menjadi hari-hari penuh kekosongan sangat tidak menyenangkan
Ada duka di masa lalu
Selalu....
Penyesalan yang tidak berguna
Perbaikan yang tidak lagi berarti
Ada suka jauh di depan
mungkin...
Entah kapan dapat kunikmati
Terlalu banyak sandungan
Ada keputusasaan saat ini
pasti....
Tertancap dalam di dalam hati
Ku bingung membawa langkahku
Jangan pandang aku dengan pandangan yang selalu menunduk
Aku setara dengan ketinggianmu
Aku bahkan dapat mencium aroma kesombongan itu
Bilur-bilur itu masih menjerat pergelangan kakiku
Aku tertahan oleh sesuatu yang paling menakutkan
Aku ingin benang itu tetap utuh
Karena ada warna di atasnya....
Warna-warna yang telah ku kumpulkan dengan air mata, darah dan kesakitan
Punya ironi warna yang begitu mencolok
Warna yang ku kumpulkan dengan pengorbanan, kesabaran dan sekeping asa
Punya harmoni warna yang lembut
Aku tak mau rajutanku terpotong lidah
Kadang-kadang....
Kala dinding persegi ini mengurungku dalam kesenyapan malam
Ada Kau di dalam diriku....
Jalan yang kulalui tidak datar seperti jalan lain
Selalu.....
Kau dan aku bertabrakan dengan sebuah kecerdasan tanpa batas
Duniamu dingin.........
Saat memori hentikan waktu
Sering ku mantapkan hati tuk terus berjalan
Kadang-kadang...
Kala sepi datang mendera
Selalu ku yakinkan diri bahwa semua kan berlalu
Kadang-kadang....
Kalau rasa kangen kian membuncah
Jarang-jarang ku dapat menghibur diri
Setiap hari....
Selalu ku ku nanti tiap detik berdetak
Akan selalu ada harap untuk hari esok
Setiap Bulan....
kadang ku hitung tiap hari yang telah ku lalui
Ingin ku perbaiki tiap langkah yang goyah dan miring
Setiap tahun....
jarang ku lewati dengan gegap tawa dan keramaian
tahun-tahun yang terpecah menjadi hari-hari penuh kekosongan sangat tidak menyenangkan
Ada duka di masa lalu
Selalu....
Penyesalan yang tidak berguna
Perbaikan yang tidak lagi berarti
Ada suka jauh di depan
mungkin...
Entah kapan dapat kunikmati
Terlalu banyak sandungan
Ada keputusasaan saat ini
pasti....
Tertancap dalam di dalam hati
Ku bingung membawa langkahku
Jangan pandang aku dengan pandangan yang selalu menunduk
Aku setara dengan ketinggianmu
Aku bahkan dapat mencium aroma kesombongan itu
Bilur-bilur itu masih menjerat pergelangan kakiku
Aku tertahan oleh sesuatu yang paling menakutkan
Aku ingin benang itu tetap utuh
Karena ada warna di atasnya....
Warna-warna yang telah ku kumpulkan dengan air mata, darah dan kesakitan
Punya ironi warna yang begitu mencolok
Warna yang ku kumpulkan dengan pengorbanan, kesabaran dan sekeping asa
Punya harmoni warna yang lembut
Aku tak mau rajutanku terpotong lidah
Kadang-kadang....
Kala dinding persegi ini mengurungku dalam kesenyapan malam
Ada Kau di dalam diriku....
Jalan yang kulalui tidak datar seperti jalan lain
Selalu.....
Kau dan aku bertabrakan dengan sebuah kecerdasan tanpa batas
Duniamu dingin.........
2 komentar:
WOWWW PUISINYA BAGUS AMAT YA....OYA JANGAN LUPA SINGGAH2 DI BLOG AKU JUGA YA
http://paul02583.multiply.com
http://paul02583.wordpress.com
kamu orangnya romantis juga ya.
Puisi ini miris.... Heran ada yang bilang romantis
Poskan Komentar